Bandung, Pusbang Literasi Digital - Pusat Pengembangan Literasi Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Jawa Barat, serta Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) menggelar kegiatan bertajuk “Fasilitasi 4 Pandu Literasi Digital Pendidikan dan Disabilitas”. Acara yang mengusung tema “Melindungi Diri dengan Fitur Keamanan Digital” ini berlangsung di Kantor DPD RI Jawa Barat, Bandung, Senin (8/6/2026).
Kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya nyata untuk menjamin hak keamanan digital bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali, termasuk kelompok penyandang disabilitas yang memiliki akses terhadap teknologi.

Acara diawali dengan pemaparan dari Ketua Bidang Peningkatan Skill dan Pengembangan Profesi DNIKS, Loretta Kartikasari. Dalam penjelasannya, Loretta menegaskan bahwa pelatihan literasi digital bagi penyandang disabilitas bersama Komdigi sangat penting. Program ini dinilai sejalan dengan langkah DNIKS yang aktif melakukan sosialisasi serta penelitian mengenai kebutuhan riil dari setiap perwakilan komunitas masyarakat.
Kepala Kantor DPD RI Jawa Barat, Herman Hermawan, yang hadir sekaligus membuka acara secara resmi, menyatakan komitmen penuh instansinya terhadap kelompok disabilitas.
"DPD Jabar sangat peduli dengan disabilitas. Semoga kegiatan bersama BPSDM Komdigi dan DNIKS ini bisa menjadi langkah awal bagi kami untuk melaksanakan kegiatan serupa secara berkelanjutan ke depan," ujar Herman.

Memasuki sesi inti, para peserta yang terdiri dari tunadaksa, tunanetra dan tunagrahita, terlebih dahulu diwajibkan mengisi pre-test sebelum menerima materi. Pemaparan materi oleh Christine Surya, Pandu Literasi Digital Komdigi dengan menerapkan metode pengalaman mandiri (self-experience). Melalui pendekatan ini, para peserta diajak berdiskusi dan menceritakan pengalaman langsung mereka selama berinteraksi di media sosial maupun internet.
Dalam sesi berbagi tersebut, terungkap sejumlah kasus kejahatan siber yang menimpa peserta. Salah seorang ibu rumah tangga mengaku pernah menjadi korban penipuan (scam) bermodus manipulasi psikologis, dimana pelaku yang mengaku sebagai kerabat dekat meminta sejumlah uang dalam jumlah besar. Selain itu, seorang pelaku wirausaha juga menceritakan pengalamannya menjadi korban peretasan (hacking) disertai ancaman penyebaran data pribadi oleh pihak tidak dikenal (cyber extortion).
Berdasarkan testimoni para peserta, modus kejahatan siber yang paling sering dihadapi meliputi scam, phising, dan hacking yang memanfaatkan iming-iming keuntungan finansial, ancaman, serta rayuan. Menanggapi fenomena tersebut, Christine mengimbau peserta untuk meningkatkan kewaspadaan karena pelaku kejahatan umumnya memanipulasi tiga aspek psikologis korban, yakni empati, kepanikan, dan prosedur birokrasi.
Cara paling sederhana tapi sangat ampuh, diantaranya adalah jangan mengakses hal pribadi seperti M-Banking atau file pribadi melalui WiFi terbuka, gunakan VPN jika membuka File atau akun sensitif, dan apabila menjadi korban, jangan panik, segera konfirmasi Yayasan, dan periksa nomor menggunakan aplikasi pelacak nomor.

Di akhir paparannya, Christine mengingatkan agar masyarakat tidak meremehkan ancaman kejahatan siber dan selalu memprioritaskan perlindungan data pribadi di internet.
“Memahami digital itu sangat penting, khususnya untuk difabel mulai dari etika, keamanan dan budaya digital," pungkasnya.
Acara ini mendapat respon positif dari peserta. Ujang Sulaiman, salah satu peserta penyandang disabilitas, menyatakan bahwa materi yang disampaikan sangat luar biasa dan memberikan manfaat konkret. Ia berharap pelatihan serupa dapat terus diperbanyak pada masa mendatang, mengingat pemahaman tentang ruang digital dan keamanan siber saat ini sudah menjadi kebutuhan pokok yang sangat mendesak bagi kaum disabilitas.
Narahubung
Diah Aliefya
Tim Literasi Digital Pendidikan dan Disabilitas
Pusat Pengembangan Literasi Digital BPSDM Komdigi
Kementerian Komunikasi dan Digital
Share Berita
Berita Terkait
Lihat Semua
Wujudkan Ruang Digital Aman untuk Tumbuh Kembang Anak.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Dorong Peran Guru Melalui Undang-Undang Perlindungan Anak (PP TUNAS)

Wujudkan Ruang Digital Aman untuk Tumbuh Kembang Anak.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Dorong Peran Guru Melalui Undang-Undang Perlindungan Anak (PP TUNAS)
.webp)
Bijak Pakai AI di Kampus
Melalui Kegiatan Peningkatan Literasi Digital untuk Mahasiswa Mahasiswa Politeknik Digital Boash Indonesia (PDBI), Mahasiswa Harus Kritis Hindari Plagiarisme Gaya Baru!
.webp)
Bijak Pakai AI di Kampus
Melalui Kegiatan Peningkatan Literasi Digital untuk Mahasiswa Mahasiswa Politeknik Digital Boash Indonesia (PDBI), Mahasiswa Harus Kritis Hindari Plagiarisme Gaya Baru!

Ruang Digital untuk Semua.
Komdigi jangkau disabilitas netra belajar Search Engine dan AI melalui Fasilitasi Pandu Literasi Digital untuk Disabilitas.

Ruang Digital untuk Semua.
Komdigi jangkau disabilitas netra belajar Search Engine dan AI melalui Fasilitasi Pandu Literasi Digital untuk Disabilitas.

Cegah Sebelum Viral!
Pelajar Jakarta Dilatih Bongkar Manipulasi AI dan Disinformasi, melalui pelatihan Antihoaks: Cek Dulu Sebelum Sebar, Cegah Sebelum Viral.

Cegah Sebelum Viral!
Pelajar Jakarta Dilatih Bongkar Manipulasi AI dan Disinformasi, melalui pelatihan Antihoaks: Cek Dulu Sebelum Sebar, Cegah Sebelum Viral.

Komdigi Gelar "Tunas Indonesia Cakap Digital"
Perkuat Komitmen Multipihak untuk Pelindungan Anak di Ruang Digital

Komdigi Gelar "Tunas Indonesia Cakap Digital"
Perkuat Komitmen Multipihak untuk Pelindungan Anak di Ruang Digital

Sebarkan Ilmu Digital ke Seluruh Masyarakat
Komdigi dan DNIKS menyelenggarakan pelatihan TIK bagi penyandang disabilitas

Sebarkan Ilmu Digital ke Seluruh Masyarakat
Komdigi dan DNIKS menyelenggarakan pelatihan TIK bagi penyandang disabilitas
Makin Cakap Digital © 2023 - 2026 All rights reserved





